Selasa, 03 Januari 2012

Kebudayaan Depok


Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan  ragam budayanya. Perbedaan budaya ini menjadikan kita bangsa yang unik dengan motto Bhineka Tunggal Ika “ walau berbeda tetapi tetap satu jua” . Tidak sulit menjumpai warna warni budaya Indonesia,  apalagi jika lokasi tempat tinggal Kita adalah daerah multietnis seperti kota Jakarta, Depok dan Bekasi. Keragaman budaya dapat terlihat jelas dimulai dari  lingkungan rumah, karena kita akan bertetangga dengan etnis lain seperti orang  Jawa, Batak, Sunda atau lainya.
Depok adalah dalah satu daerah yang terletak di Jawa Barat. Lokasinya dekat dengan Jakarta dan tidak terlalu jauh dari Bogor. Tak heran jika sebagian besar warga Depok berasal dari Suku Betawi dan Sunda. Tetapi, semenjak tahun 1990 an Depok ramai dikunjungi para pendatang karena lokasinya yang dekat dengan Ibu Kota.
Depok dahulu adalah kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor, yang kemudian mendapat status kota administratif pada tahun 1982. Sejak 20 April 1999, Depok ditetapkan menjadi kotamadya (sekarang: kota) yang terpisah dari Kabupaten Bogor. Kota Depok terdiri atas 11 kecamatan, yang dibagi menjadi 63 kelurahan.
Nama-nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Depok ini sampai tahun 2010 merupakan warisan budaya (Cultural Heritage) produk sosial masyarakat kota Depok, baik yang memiliki nilai Lokal (penamaan dengan bahasa Betawi) maupun yang memiliki nilai Regional (penamaan berbahasa Banten, Jawa, Sunda), Nasional (penamaan Bahasa Indonesia), sertaInternasional (penamaan dengan menggunakan bahasa Sanskerta, Latin; misal Tapos). Dari pengidentifikasian bahasa setidaknya ada tujuh asal bahasa yang digunakan sebagai bahan penamaan Kecamatan maupun Kelurahan di Kota Depok dan jika dipaksakan ditambah satu bahasa lagi yaitu Bahasa Belanda untuk Akronim nama Depok sendiri (masa kolonial).
Dari sisi pembentukan kata untuk memberi nama kecamatan atau kelurahan, masyarakat Depok lebih banyak terbukti menggunakan nama-nama yang tersusun dari banyak kata (bentuk Jamak) dibandingkan nama-nama dengan kata tunggal.
Dan ciri yang lain yaitu tradisi penamaan kecamatan dan kelurahan di Kota Depok lebih banyak menyukai nama-nama berdasar fenomena fisik geografis (Natural, Abiotik) dibandingkan penamaan atas dasar biodiversitas (flora, maupun atas dasar fenomena sosial.
Dan walaupun depok termasuk kedalam wilayah atau provinsi jawa barat tapi bahasa yang digunakan di daerah depok adalah bahasa betawi karena kebanyakan orang depok adalah orang pindahan atau migrasi dari jakarta.
Dan Suku Betawi itu sendiri berasal dari hasil perkawinan antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.
Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .
Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
            Di depok pernah menjadi tempat singgah orang-orang belanda. Oleh karena itu di deppok banyak sekali peninggalan peninggalan belanda yang masih utuh sampai sekarang, contoh jembatan panus yang ada di depok lama, lalu old house yang sekarang menjadi margo city pun bekas pembangunan ala belanda.
            Sejarah Kaum Belanda Depok
Pada abad ke-16, saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, hiduplah seorang tuan tanah bernama Cornelis Chastelein yang mendiami dan membeli sebuah wilayah pertanian dan perkebunan bernama Depok. Cornelis kemudian menjadi Presiden di wilayah yang luasnya ribuan hektare itu.
Karena tak sanggup merawat tanahnya yang begitu luas, dia kemudian mengambil dan mempekerjakan budak-budak yang umumnya berasal dari Indonesia bagian timur, seperti Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa, Pulau Rote serta Filipina. Setidaknya terdapat 200 budak dipekerjakannya.
Tak selayaknya tuan tanah lainnya di masa itu, Cornelis memperlakukan para budaknya dengan sangat manusiawi. Budak-budak tersebut dirawat, diberikan pendidikan, serta diperkenalkan agama Kristen Protestan lewat sebuah Padepokan Kristiani. Padepokan ini bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, disingkat Depok. Dari sinilah nama kota ini berasal.
Karena terlihat adanya kesetaraan dengan majikannya, tak pelak masyarakat yang hidup di sekitar perkebunan menyebut para budak itu Belanda Depok.
Suatu saat, Cornelis Chastelein meninggal dunia pada tanggal 28 Juni 1714 karena sakit. Cornelis pun mewariskan perkebunannya pada para budaknya yang telah dibebaskannya. Berikut isi wasiatnya.
“… Maka hoetang jang laen jang di sabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…”
Kemudian ratusan budak tersebut kemudian dikelompokan menjadi 12 fam atau marga dan mewarisi surat wasiat dari Cornelis untuk merawat perkebunan tersebut. Belasan marga tersebut yaitu Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Toseph, Yakob, Sudira, Samuel, Zadoch, Isac, Bakas dan Tholence.
Seiring perkembangan zaman, wilayah yang disebut Depok pada zaman Cornelis Chastelein, kini hanyalah sebuah Kecamatan bernama Pancoran Mas Depok. Komunitas Belanda Depok sendiri masih dapat dijumpai di kawasan Depok Lama karena terdapat sebuah yayasan kumpulan mereka yang diberi nama Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).
Salah satu keturunan mereka yang juga anggota YLCC, Suzana Leander menuturkan, sebelum menjadi yayasan, YLCC hanya sebuah lembaga yang didirikan sebagai lambang persatuan budak-budak, serta tempat berkumpul komunitas mereka.
kini, setidaknya ada tujuh ribu warga komunitas Belanda Depok yang terdaftar di Lembaga Cornelis Chastelein (LCC). Mereka tersebar di berbagai daerah dan negara. Di antara mereka, sepertiganya adalah keturunan asli Belanda yang menikah dengan orang Indonesia atau keluarga Belanda yang lebih senang tinggal di Indonesia. Sebutan Belanda Depok sebetulnya hanya label belaka bagi orang pribumi yang mendapatkan keistimewaan dari pemerintah Belanda kala itu. Mereka menyandang 12 marga pekerja Cornelis Chastelein.
Aset-Aset Milik Kaum Belanda Depok
Saat Cornelis Chastelein meninggal pada tahun 1714, dia sempat menuliskan wasiat yang diberikan kepada budak-budak untuk merawat tanah dan warisan miliknya. Hingga kini, warisan-warisan tersebut masih tersisa dan hampir semua terawat dengan baik meski sudah berubah fungsi.
Contohnya, Istana Presiden Cornelis Chastelein, di Jalan Pemuda yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan Depok. Di belakang rumah sakit tersebut, dulu terdapat gudang penyimpanan padi bagi para budak.
Salah satu keturunan mereka yang juga anggota YLCC, Suzana Leander mengatakan, sekolah pertama para budak adalah SD Pancoran Mas 02 yang hingga kini masih menjadi sekolah tanpa perubahan di bentuk bangunan gedung. Selain itu, gereja Immanuel tempat mereka beribadah, kini sudah dihibahkan kepada GPIB Jakarta Barat.
“Ada lagi aset kami, yaitu Pemakaman Kamboja di Depok Lama, serta lapangan sepak bola di belakang RS Hermina. Semuanya masih terawat dengan baik, termasuk YLCC ini, ada yang kami sewakan seperti Rumah Sakit,” kata papar Suzana kepada Okezone di Pancoran Mas Depok.
Tugas YLCC, kata Suzana, adalah sesuai dengan Undang-undang Yayasan yaitu seperti mencatat atau mendata setiap keturunan yang lahir, menikah, maupun yang meninggal. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.
“Kami terus lestarikan aset sejarah ini, setidaknya setiap keturunan kami selalu kami ceritakan tentang sejarah bagaimana mereka memperoleh marga di nama belakangnya, juga aset-aset yang masih tersisa,” tegasnya.
Selain itu YLCC juga meminta Pemerintah Kota Depok untuk turut serta melakukan perawatan terhadap berbagai peninggalan Belanda yang tak lepas dari sejarah Cornelis, dan sekarang masih tersisa. Seperti diketahui di kawasan Depok Lama saat ini, masih banyak terdapat bangunan dan rumah-rumah tua yang berarsitektur Belanda pada zaman penjajahan.
Wakil Ketua Pengurus Harian YLCC Fleppy Leander, yang juga ditemui okezone mengatakan, kawasan Depok Lama dan gedung YLCC berpotensi untuk menjadi tempat wisata budaya. Oleh karena itu Fleppy meminta kepada Pemerintah Kota Depok memberikan sejumlah dana perawatan untuk ikut menjaga dan melestarikan aset-aset yang diwarisi oleh Cornelis.
“Sudah ada wacana oleh Dinas Pariwisata, tapi belum terealisasi, memang harus ada dukungan dana dan dari pemerintah. Depok tidak akan ada tanpa Cornelis Chastelein,” ucapnya.
Selama ini, kata Fleppy, Pemkot Depok hanya membantu pemagaran di salah satu aset Cornelis yaitu pemakaman Kamboja, Depok Lama pada lima tahun lalu. Fleppy meminta Pemerintah Kota untuk segera membuat payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) mengenai aset-aset sejarah.
“Di Depok itu banyak situs sejarah, cuma belum diinventarisir dan kurang mendapat perhatian, apalagi Depok belum punya museum, YLCC bisa dijadikan cagar budaya,” tegasnya.
Dana operasional YLCC, kata Fleppy, hanya berasal dari donatur acara gereja, bukan dari Pemerintah Kota. Jika dimungkinkan, kata Fleppy, sejarah Belanda Depok bisa diselipkan dalam kurikulum sejarah di sekolah. “Mengapa tidak, kalau Dinas Pendidikan setuju, ini kan penting bagi anak cucu kita, karena ini sejarah dan warisan budaya,” katanya.
Nilai positif yang dapat kita ambil adalah dengan banyaknya perbedaaan budaya yang ada di depok membuat depok menjadi lebih berwarna akan kebudayaannya. Namun, kita harus melestarikan budaya asli depok seperti gong si bolong yang sudah hampir punah, oleh karena itu sebagai orang depok kita harus melestarikan budaya tersebut agar nantinya para cucu kita masih dapat menikmatinya.
Sumber:
http://news.okezone.com/read/extend/2010/03/08/345/310276/siapa-sebenarnya-belanda-depok
http://news.okezone.com/read/extend/2010/03/08/345/310295/ini-dia-aset-aset-belanda-depok
http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1428/sisa-sisa_belanda_depok
 http://winarnotugas.blogspot.com/2011/04/kebudayaan-kota-depok-dan-suku-betawi.html

0 comments:

Posting Komentar